Advertorial

Terapi Cuci Darah, Salah Satu Layanan Unggulan di RSUD Sidikalang

SINDEKA.id – Sejak dilaunching oleh Bupati, Dr. Eddy Keleng Ate Berutu pada 1 Oktober 2020 lalu, bertepatan dengan Hari Jadi ke-73 Kabupaten Dairi, fasilitas cuci darah atau hemodialisa di RSUD Sidikalang makin diminati warga sebagai fasilitas layanan kesehatan masyarakat.

Tak ayal, fasilitas layanan kesehatan ini pun jadi layanan unggulan di RSUD Sidikalang saat ini.

Parulian Bancin (54) contohnya, warga Tigalingga ini mengaku sudah setahun lebih menjalani proses cuci darah di rumah sakit ini.

Parulian menyebut, sebelumnya Ia selalu bolak-balik Sidikalang-Medan untuk menjalani cuci darah di RSU Murni Teguh, Medan

Parulian yang ditemui akhir-akhir ini, saat menjalani cuci darah di RSUD Sidikalang menjelaskan, Ia memutuskan untuk tidak melanjutkan proses cuci darah di Murni Teguh yang tentunya menguras tenaga, waktu dan materi.

“Setelah tau di rumah sakit ini ada fasilitas terapi cuci darah atau biasa disebut hemodialisa, saya memutuskan untuk melanjutkan pengobatan disini. Capek, bolak-balik Sidikalang-Medan,” katanya.
Lagipula, kata pasien yang sudah menjalani tindakan cuci darah sebanyak 178 kali ini, pelayanan paramedis kepada selama menjalani proses cuci darah pun sangat baik.

Hemodialisa atau hemodialisis merupakan terapi cuci darah di luar tubuh. Terapi ini umumnya dilakukan oleh pengidap masalah ginjal yang ginjalnya sudah tak berfungsi dengan optimal.

Pada dasarnya, tubuh manusia mampu mencuci darah secara otomatis, tapi bila terjadi masalah pada ginjal, ginjal akan kehilangan fungsinya. Ginjal merupakan organ yang punya peranan vital dalam tubuh.

Organ ini bertanggung jawab untuk penyaringan darah. Selain membersihkan darah dalam tubuh, ginjal juga membentuk zat-zat yang menjaga tubuh agar tetap sehat. Namun, pada pengidap penyakit ginjal kronis atau gagal ginjal, organ ini sudah tidak bisa berfungsi dengan baik.

Kondisi tersebutlah yang membuat tubuh membutuhkan proses cuci darah menggunakan bantuan alat medis. Dengan kata lain, dalam kondisi ini, perawatan ini menggantikan peran ginjal ketika organ tersebut sudah tidak mampu bekerja secara efektif.

Untuk melakukan perawatan ini, prosesnya akan dibantu menggunakan mesin khusus untuk menggantikan ginjal yang rusak agar tubuh bisa menyaring darah. Mesin ini berperan sebagai ginjal artifisial (ginjal buatan) yang dapat menyingkirkan zat-zat kotor, garam, serta air berlebih yang ada di dalam darah pengidap.

Dalam prosesnya, pembuluh darah pasien akan dimasukkan jarum oleh petugas medis. Tindakan ini bertujuan untuk menghubungkan aliran darah tubuh pasien ke mesin pencuci darah. Setelah itu, darah kotor akan disaring dalam mesin pencuci darah. Setelah proses penyaringan selesai, selanjutnya darah bersih akan dialirkan ke dalam tubuh pasien.

Cuci darah dengan menggunakan metode ini bisa menghabiskan waktu sekitar empat jam per sesi. Dalam seminggu, pengidap perlu menjalani setidaknya tiga sesi dan hanya bisa dilakukan di klinik cuci darah atau rumah sakit.

“Perawatan kesehatan yang saya jalani di sini, sangatlah baik. Perawatan suster inilah yang menyelamatkanku. Saya bisa katakan, saya sangat beruntung,” katanya lagi.
Parulian yang menderita penyakit batu ginjal (nefrolitiasis) ini mengaku, perawatan intensif dan sepenuh hati dari para perawatlah yang Ia yakini menyelamatkannya hingga bisa melewati masa-masa kritis sebelumnya.

Yang lebih menyedihkan, Parulian menyebut adalah saat pandemi Covid 19, beberapa pasien satu ruangan dengannya ada yang meninggal. Hal itu membuat dirinya semakin khawatir akan kesehatannya. Namun ketekunan para tenaga medis membuatnya mampu bertahan hingga saat ini senantiasa rutin menjalani proses cuci darah 2 kali seminggu yakni Senin dan Kamis.

Ia hanya berharap, fasilitas kesehatan lainnya termasuk mesin hemodialisis ini bisa makin ditingkatkan, guna pelayanan rumah sakit yang lebih paripurna.
Sebagai informasi, Hemodialisia adalah tindakan medis atau perawatan untuk menyaring limbah dan air dari darah.

Hemodialisa ini umumnya dilakukan oleh mereka yang mengidap penyakit jantung kronis atau gagal ginjal. Pada pengidap gagal ginjal, hemodialisa dilakukan karena ginjal sudah tak bisa berfungsi dengan baik lagi. Dengan kata lain, bila penyakit ginjal sudah sangat parah, ketika ginjal tak sanggup lagi bekerja secara optimal, maka seseorang memerlukan hemodialisa.

Seseorang bisa memulai hemodialisa ketika dirinya memiliki gejala gagal ginjal. Contohnya seperti mual, kelelahan, tingginya tekanan darah, atau hingga pembengkakan pada tungkai. Di samping itu, tes laboratorium juga bisa menentukan perlu atau tidaknya seseorang menjalani hemodialisa. Bila tes laboratorium menunjukkan tingkat limbah beracun yang tinggi dalam darah, hemodialisa perlu dilakukan. (*)

Related Articles

Back to top button