Opini

Pelleng: Spirit Kebangsaan (Refleksi 23 Tahun Kabupaten Pakpak Bharat)

Oleh : Dr. Asren Nasution

Sebagai aparatur sipil negara yang pernah diberi amanah oleh pemerintah selama 20 bulan sebagai Penjabat Bupati Pakpak Bharat, penulis mengucapkan syukur dan tahniah atas peringatan 23 tahun berdirinya Kabupaten Pakpak Bharat. Tulisan ini dipersembahkan sebagai wujud kesyukuran sekaligus ungkapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya atas budi baik serta jasa besar seluruh masyarakat Pakpak Bharat selama masa pengabdian tersebut.

Judul pelleng sengaja diangkat. Bukan tanpa alasan. Hidangan inilah yang pertama kali penulis cicipi pada hari ketiga bertugas. Dari sana, pelleng tidak lagi sekadar makanan, melainkan pintu masuk memahami watak sosial, budaya, dan bahkan daya tahan masyarakat Pakpak Bharat dalam menghadapi perubahan zaman.

Secara kultural, pelleng adalah simbol. Ia bukan hanya nasi berbumbu, tetapi representasi semangat, doa, dan kekuatan kolektif masyarakat. Dalam tradisi Pakpak, pelleng bahkan dahulu disajikan kepada mereka yang hendak berperang atau memulai pekerjaan besar sebagai sumber semangat dan harapan keberhasilan Artinya, sejak awal, pelleng telah menjadi simbol energi sosial bukan sekadar konsumsi biologis.

Pelleng Fondasi Ketahanan Pangan

Dalam perspektif ketahanan pangan modern, sebagaimana dirumuskan FAO, terdapat tiga pilar utama: ketersediaan (availability), akses (access), dan pemanfaatan (utilization). Pelleng secara nyata merepresentasikan ketiganya dalam praktik keseharian masyarakat Pakpak.

Pertama, dari sisi ketersediaan, bahan baku pelleng sangat sederhana dan berbasis lokal: beras, kunyit, jahe, bawang, cikala, hingga andaliman.,Keseluruhan bahan ini bukan komoditas yang bergantung pada rantai distribusi panjang, melainkan dapat diperoleh dari lingkungan sekitar. Dalam pendekatan sosiologi pedesaan, kondisi ini disebut sebagai local resource-based food system, yakni sistem pangan yang bertumpu pada sumber daya lokal sebagai basis ketahanan.

Kedua, dari aspek akses, pelleng menunjukkan bahwa pangan tidak selalu identik dengan mekanisme pasar. Amartya Sen dalam teori entitlement menegaskan bahwa krisis pangan sering kali bukan karena ketiadaan pangan, melainkan kegagalan akses. Dalam konteks Pakpak Bharat, keberadaan bahan pelleng di sekitar rumah tangga justru memperkuat akses langsung masyarakat terhadap pangan, tanpa ketergantungan tinggi pada pasar.

Ketiga, dari sisi pemanfaatan, pelleng adalah pangan berbasis rempah yang kaya nilai fungsional. Kehadiran kunyit, jahe, dan andaliman bukan sekadar penambah rasa, tetapi bagian dari pengetahuan lokal tentang kesehatan. Dalam kajian etnobotani, pelleng bahkan disebut sebagai pangan tradisional yang merefleksikan hubungan antara keanekaragaman hayati dan praktik konsumsi masyarakat.

Dengan demikian, pelleng bukan sekadar makanan tradisional, tetapi sistem pengetahuan pangan yang telah lulus uji. Ia mengajarkan bahwa ketahanan pangan tidak harus dimulai dari skala besar, melainkan dari kemampuan masyarakat mengelola apa yang ada di sekitarnya.

Dari sini, pelleng menjadi relevan dengan agenda besar bangsa: swasembada pangan. Ketika setiap rumah tangga mampu memastikan ketersediaan bahan pangannya sendiri, maka sesungguhnya fondasi swasembada telah di konsep dan dibangun di Pakpak Bharat.

Pelleng & Sdm Berbasis Gizi

Ketahanan pangan tidak berhenti pada ketersediaan bahan, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dihasilkan dari pola konsumsi masyarakat. Dalam perspektif pembangunan, kualitas SDM sangat ditentukan oleh asupan gizi yang berkelanjutan dan berbasis pada sumber pangan yang sehat, terjangkau, dan mudah diakses.

Pelleng, dalam hal ini, menyimpan dimensi gizi yang tidak sederhana. Ia bukan hanya nasi sebagai sumber karbohidrat, tetapi juga mengandung beragam rempah seperti kunyit, jahe, bawang, dan andaliman. Kajian menunjukkan bahwa bahan-bahan tersebut memiliki manfaat kesehatan, termasuk sifat antioksidan dan antimikroba yang mendukung daya tahan tubuh. Bahkan dalam perspektif etnobotani, pelleng memanfaatkan sedikitnya belasan jenis tanaman yang tidak hanya bernilai kuliner, tetapi juga memiliki fungsi ekologis dan kesehatan.

Di sinilah letak pentingnya: masyarakat Pakpak Bharat sesungguhnya telah memiliki basis food culture yang selaras dengan konsep gizi seimbang, jauh sebelum konsep tersebut diformalkan dalam kebijakan modern. Konsumsi berbasis rempah alami, tanpa ketergantungan pada bahan olahan, menunjukkan adanya pola hidup yang relatif lebih sehat dan adaptif terhadap lingkungan.

Jika dikaitkan dengan pembangunan SDM, maka pelleng dapat dipahami sebagai bagian dari nutritional culture capital modal budaya gizi yang dimiliki masyarakat. Modal ini penting karena kualitas manusia tidak hanya dibentuk oleh pendidikan formal, tetapi juga oleh pola makan yang membentuk kesehatan fisik dan ketahanan tubuh. Dalam konteks ini pelleng mampu melahirkan SDM yang cerdas dan unggul dengan komposisinya yang memiliki gizi seimbang, antioksidan dan antimikroba yang melindungi diri dari penyakit.

Pelleng & Soliditas Kebangsaan

Pelleng tidak hanya berbicara tentang pangan dan gizi, tetapi juga tentang solidaritas sosial. Dalam berbagai tradisi Pakpak, pelleng disajikan dalam momentum penting: pernikahan, pembukaan ladang, hingga perjalanan merantau. Ia menjadi simbol kebersamaan, harapan, dan kekuatan kolektif.

Secara sosiologis, hal ini dapat dijelaskan melalui konsep social cohesion ikatan sosial yang memperkuat rasa kebersamaan dalam suatu komunitas. Emile Durkheim menyebutnya sebagai solidaritas mekanik, di mana nilai-nilai bersama menjadi perekat utama kehidupan sosial. Pelleng, dalam konteks ini, bukan hanya makanan, tetapi media integrasi sosial.

Lebih jauh, pelleng juga mengandung makna simbolik sebagai energi perjuangan. Dalam sejarahnya, hidangan ini diberikan kepada mereka yang hendak menghadapi tantangan besar, termasuk berperang atau merantau, sebagai simbol keberanian dan doa. Ini menunjukkan bahwa pangan dalam budaya Pakpak tidak pernah netral ia selalu membawa pesan kolektif tentang semangat, keberanian, dan harapan.

Dalam konteks kebangsaan, nilai ini menjadi sangat relevan. Indonesia sebagai bangsa besar membutuhkan fondasi solidaritas yang tidak hanya dibangun melalui narasi formal, tetapi juga melalui praktik budaya sehari-hari. Pelleng, sebagai simbol lokal, sesungguhnya mengandung spirit nasional: kebersamaan, ketahanan, dan keberanian menghadapi tantangan.

Dengan demikian, memperkuat tradisi seperti pelleng berarti juga memperkuat solidaritas kebangsaan dari akar budaya. Karena bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang maju secara ekonomi, tetapi juga yang kokoh dalam nilai-nilai sosialnya.         

Kesimpulan

Jika kita sepakat bahwa pelleng adalah bagian dari kultur yang melekat dalam kehidupan masyarakat Pakpak Bharat, maka sudah seharusnya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dilestarikan secara nyata, bukan sekadar simbolik.

Pelestarian itu dapat dimulai dari hal sederhana namun strategis: menjadikan bahan baku pelleng sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Pekarangan rumah tidak lagi ruang kosong, tetapi menjadi โ€œtaman hidupโ€ yang ditanami kunyit, jahe, bawang, cikala, dan tanaman lainnya. Ini bukan aktivitas ekonomi, tetapi sikap dan komitmen kolektif sebuah gerakan sunyi, tanpa suara, yang menyatakan bahwa masyarakat siap membangun kemandirian pangan dari bawah, sebagaimana pekerjaan ini telah dimulai dan membudaya dalam kehidupan masyarakat Pakpak Bharat. Dan dari sinilah swasembada pangan menemukan fondasi sejatinya sebagai modal dasar menuju terwujudnya ASTA CITA.

Akhirnya, refleksi 23 tahun Pakpak Bharat menemukan maknanya dalam kearifan sederhana yang diwariskan leluhur:

โ€œBage ate rejeki, bage tennah sodip.โ€

Bahwa rezeki dan kehidupan akan mengikuti niat dan usaha. Dan dalam konteks kebangsaan, niat kolektif untuk mandiri serta usaha bersama untuk mengelola sumber daya lokal adalah jalan yang paling realistis menuju masa depan yang maju dan berdaulat.

DIRGAHAYU KE -23 KABUPATENPAKPAK BHARAT TAHUN 2026.


Dr. Asren Nasution

(Mantan Pj Bupati Pakpak Bharat Tahun 2019-2020 dan Dosen Pascasarjana UISU Medan)

Back to top button